Mengawal Kekritisan Mahasiswa dalam Vlog Dedi Mulyadi

Oleh: Widi Trivito

Sebagai seorang “Pengembala Milenial”, tentu seorang Dedi Mulyadi akrab sekali dengan yang namanya YouTube dan segala istilah di dalamnya. Platform berbagi video yang sekarang merupakan bagian dari kemajuan zaman itu sangat amat digunakan dengan baik oleh pria yang biasa dipanggil Kang Dedi ini. Salah satunya dengan membuat kanal YouTube yang berisikan Video Blog kesehariannya sebagai seorang, yang katanya, sih, warga Purwakarta biasa–begitu rendah hatinya hingga ia tidak menunjukkan posisi dia yang sebenarnya di Senayan. Bahkan salah satu video yang ditanyangkan menjadi perbincangan akhir-akhir ini, pasalnya seorang mahasiswa dengan beraninya mempersoalkan kewenangan Kang Dedi yang sedang memungut sampah–sembari nge-vlog­ tentunya.

Video blog diawali dengan keadaan Pasar Rebo, Purwakarta, yang terlihat amat sangat semrawut ketika didatangi oleh Kang Dedi. Acap kali Kang Dedi menanyakan perihal fasilitas umum yang dibangun tidak digunakan sebagai mana mestinya. Dapat kita lihat dalam video, pot yang seharusnya digunakan sebagai media tanaman malah beralih fungsi menjadi meja jajaan seorang penjual. Dapat terlihat pula sebuah tangki air yang seharusnya menjadi sumber air mencuci tangan juga beralih tupoksinya yang seharusnya menjadi fasilitas pencegahan penyebaran wabah yang merebak saat ini.

Video berlanjut ke adegan mulia saat Kang Dedi memungut sampah di sekitaran pasar, hingga akhirnya datang seseorang mahasiswa yang menanyakan dasar hukum dan kewenangan seorang Kang Dedi sebagai anggota legislatif, namun harus turun tangan memungut sampah. Perlu kita ancungi jempol kepada mahasiswa bernama Yudha tersebut. Karena di tengah ramainya sorot mata warga yang bangga memiliki seorang wakil rakyat yang sangat pro rakyat, Yudha dengan gagah berani menantang seorang anggota DPR untuk beradu argumen dengan nama mahasiswa sebagai barang taruhannya. Namun, sayang seribu sayang, argumen Yudha nampak tak begitu esensial. Kosa kata “artinya” secara repetitif keluar dari mulutnya, yang membuat dia menjadi bahan olok-olokan warganet di kolom komentar Kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL. Sabung argumen yang seharusnya seronok untuk menjadi tontonan tersebut malah menjadi senjata balik bagi Kang Dedi untuk kontennya.

Perlu kita ancungi jempol pula kepada Kang Dedi, seorang warga Purwakarta yang merangkap jabatan sebagai anggota DPR RI, karena sangat paham betul dengan perkembangan zaman dan tren saat ini. Ini bisa terlihat pada menit 13:15, Kang Dedi berkata “Saya kasih tahu, ya, para netizen, saya lagi membersihkan [sampah] ini, dia [Yudha] protes”. Jika kita lihat, sedari awal Kang Dedi sudah tahu bagaimana kekuatan netizen ketika bersatu menanggapi sesuatu yang fenomenal. Netizen Indonesia–yang mendapat predikat sebagai netizen paling tak sopan se-Asia–sangat mudah sekali untuk dibakar emosinya. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Kang Dedi dengan men-checkmate Yudha hingga dia berbelit-belit ketika berargumen.

Bermodalkan konten-konten mulia sebelumnya, mudah saja bagi Kang Dedi untuk membalikkan keadaan. Dengan mem-framing bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar dan benar bagi seorang warga, ia dapat membungkam Yudha hingga ketar-ketir terdiam seribu bahasa. Sebenarnya saya sendiri paham maksud dari apa yang ingin disampaikan Yudha. Begini, biar sama-sama fair saya sedikit menyampaikan argumen Yudha dari apa yang saya tangkap.

Kang Dedi adalah seorang anggota DPR–walau dia sendiri tidak mau mengatakannya di awal video. Seorang anggota DPR membawa kamera beserta kameramen, lalu pergi ke pasar, untuk memungut sampah. Menurut Yudha, hal ini aneh. Bukan menjadi kewajiban Kang Dedi untuk memungut sampah. Yo, mosok sekelas anggota DPR malah memungut sampah. Enggak level. Apa Kang Dedi tidak punya bawahan yang dapat diandalkan, sampai-sampai ia harus turun tangan? Seharusnya masalah sampah ini menjadi tanggung jawab bersama para warga atau pihak terkait. Kang Dedi dengan jabatannya dan kekuasaannya bisa dan harusnya memberikan kontribusi legislasinya agar warga, Pasar Rebo, atau bahkan Purwakarta bisa menjadi lebih baik lagi. Begitu pikirnya.

Tentu Kang Dedi bereaksi. Acara vlog-nya jadi terganggu dengan hadirnya agen kontrol sosial ini. Harusnya kontennya menjadi keseharian yang mulia malah dikaburkan dengan argumen Yudha. Kang Dedi dengan berpikir cepat dapat men-counter­ ­hingga keadaan berbalik dan mengungguli Yudha. Ya, walaupun sebenarnya dari awal Yudha sudah kalah, sih. Bagaimana tidak, dari yang awalnya berdebat di pinggir jalan, hingga masuk ke dalam suatu ruangan, Yudha tampak tidak diberi kesempatan untuk menenangkan diri kala dirinya sudah panik tersebut. Alhasil, argumen yang ingin ia sampaikan terlihat tidak jelas arahnya ke mana. Kang Dedi terus menerus menyerang dengan mengungkit aksinya yang sudah-sudah seperti, mengurus mobil yang terparkir hingga setahun, sampai mengurus bangkai kucing yang sudah seminggu membusuk, dia lontarkan sebagai tameng kemuliaan Kang Dedi. Yudha yang sudah panik dan disoroti mata tajam warga pasrah menerima kekalahan dan memilih pergi dari hadapan Kang Dedi. Sebelum pergi, Kang Dedi memberikan satu kata-kata kunci yang mungkin kelak akan mengantarkan Yudha menjadi seorang politisi. “Kalau kritik itu, harus dengan contoh. Karena publik hari ini, sangat menyukai hal yang praktis”.

Scroll to Top