MEMANUSIAKAN MANUSIA

By. Astrid Indah Istiningrum

Sewajarnya manusia,

Memberikan makanan layak untuk isi perutnya

Memutuskan sebuah pilihan

Melangkah dan membeli sepotong roti

Pagi hari di sebuah kota

Tidak perlu saya sebutkan dimana, tidak perlu

Bukan itu yang perlu saya jelaskan

Benar-benar memastikan bahwa mata saya tidak buta

Benar-benar memastikan bahwa diri saya dalam kesadaran penuh

Oh Tuhan,

Ada lelaki tua terbaring lemah di sudut toko

Ada lelaki tua merintih kedinginan di pagi yang cukup panas

Melihat manusia-manusia beramai-ramai mengunjungi toko

Membalikkan sebentar wajahnya

Lalu pergi setelah memberikan sebungkus nasi

Mengiris hati saya dengan pilu

Tidakkah mereka berpikir pedihnya rasa sakit?

Tidakkah mereka berpikir pedihnya tidur hanya beralas tanah dan beratap langit?

Memperhatikan sebentar tarikan nafasnya dari kejauhan

Nampaknya banyak orang melihat tahu

Bahwa lelaki tua itu tak dapat menarik dan menghembuskan nafasnya secara sempurna

Memutuskan untuk kemudian mendekat

Menanyainya sebentar tentang rasa sakitnya

Tidak sanggup lagi ia mendiktekan rasa sakitnya

Bibirnya kelu

Wajahnya pucat

Banyak orang tahu bahwa hidup bukan sekedar membutuhkan makan dan minum

Banyak orang tahu bahwa hidup bukan sekedar membutuhkan uang

Tapi hidup,

Membutuhkan hati orang lain

Untuk menyelamatkannya

Dari kedinginan, kesakitan, bahkan kemiskinan

Ternyata benar banyak manusia tidak benar-benar hidup

Tetapi hanya sekedar menjadi manusia

Sulit mengerti manusia lain

Sulit memanusiakan manusia

Scroll to Top