Anak Perempuanmu

Oleh : Rio Alviani Ari S.

Ayah ..
Aku kembali di ruang rindu
Satu satunya tempat yang mampu mempertemukanku denganmu

Ayah apa kabar?
Apakah di sana menyenangkan?
Jika benar, pantas jika ayah lebih memilih bermalam

Ayah masih ingat?
Secangkir kopi yang ayah minta waktu pagi di hari rabu?
Iya, sampai sekarang masih utuh dan penuh
Cangkirnya saja masih sama
Sedikitpun belum berpindah dari tempat semula
Sengaja memang, barangkali ayah kelupaan dan akhirnya kembali pulang

Ayah perginya kejauhan
Sampai lupa kalau anak perempuannya tertinggal jauh di belakang
Aku lelah ayah, ditinggal sendirian aku tak mau, tapi jika harus menyusul aku tak mampu
Sedangkan ayah, terus berjalan tanpa sekalipun berbalik arah
Dan tak terasa ragamu seolah ditelan negeri antah berantah

Ayah memang suka bercanda, ya
Sering mengajak tertawa, tapi tiba tiba menghilang begitu saja
Tanpa kata, tanpa sapa, tanpa tanda
Padahal ada janji bahagia yang belum kita wujudkan bersama
Kalau sudah begini, apakah masih bisa cita cita itu kita lanjutkan di sana?

Ayah curang,
Ayah ngga bilang kalo jadi dewasa itu begini rasanya
Dipecuti kenyataan padahal tidak tahu apa – apa
Dilucuti kehidupan padahal belum sempat ada persiapan
Jadi kalau saat ini ayah masih bisa menyaksikanku hidup dari kejauhan, berarti itu sungguh suatu
keajaiban

Semenjak ayah pergi,
Ibu diam – diam menangis seorang diri
Bertahan dan berdiri di atas kakinya sendiri
Tidak mau dibantu, karena katanya ibu masih mampu
Meski nyatanya sudah berdarah – darah
Sudah hampir menyerah, tapi masih mencoba bersusah payah

Aku yakin ayah, kalo ada banyak luka yang ibu sembunyikan
Karena jujur, meski tangisnya dibisukan, tapi kata bulan, tetes air matanya – diam diam terdengar
membelah sunyinya malam
Sakitnya kepergianmu baginya teramat mendalam
Diam, terpendam, terbungkam

Berpura – pura baik baik saja,
Padahal itu hanya rekayasa
Hanya sebuah ceria yang dibuat – buat, pedih yang diberi obat, juga mencoba terhibur dengan kata
selamat
Terus begitu sampai pemeran utamanya memilih berhenti dengan caranya sendiri

Maka dari itu, antara kematian dan kehilangan bagiku adalah sama – sama menakutkan
Tapi tolong jangan lagi
Biarkan selamanya seperti ini
Karena rindu pun tak cukup mengharap temu

Ayah selamanya akan jadi cinta pertama
Tak peduli siapapun laki-laki itu, ayah akan tetap jadi juaranya
Jadi, sampai jumpa di cerita berikutnya

Scroll to Top