Batasan Rasa di Kota Orang

Oleh : Inas Marwaa Dzakiya

Langit senja yang berwarna jingga mengantarkan matahari untuk berpulang. Namun, warna lembut itu tak cukup untuk meredakan kebingungan di hati Rina. Ia duduk termenung di bangku taman kampus, memandang jauh ke arah gedung fakultasnya. Di tangannya tergenggam dua lembar brosur magang dari program studi: satu menawarkan magang mandiri selama tiga bulan di luar kota, dan satu lagi program magang reguler selama satu bulan yang lokasinya dekat
rumah. Kedua pilihan itu tampak menarik, tapi Rina tak bisa memutuskan yang mana yang lebih baik untuknya.
Suara langkah yang mendekat membuat Rina menoleh. Adi, temannya sekelas, duduk disebelahnya tanpa ragu.
“Kenapa, Rin? Kok galau?” tanya Adi sambil melirik brosur di tangan Rina.
Rina tersenyum tipis dan menyerahkan kedua brosur itu padanya. “Aku bingung, Di. Mau pilih yang mana?”
Adi memandang kedua brosur dengan serius, lalu bertanya, “Kamu sendiri lebih tertarik yang mana?” respon Adi.
Rina menghela napas panjang. Sebenarnya, ia ingin mencoba magang mandiri selama tiga bulan. Itu berarti tantangan baru di luar kota, jauh dari rumah. Tapi magang reguler yang hanya satu bulan terasa lebih aman, dekat dengan keluarganya.
“Aku pengen yang tiga bulan, Di,” katanya pelan. “Tapi aku takut sendirian di kota orang…” Jawab Rina ragu.
Adi tersenyum dan menepuk pundaknya lembut. “Kalau kamu benar-benar mau belajar dan cari pengalaman, pilih yang tiga bulan, Rin. Tapi siapin mental ya,” katanya dengan tatapan menguatkan.
Saran Adi berputar di pikiran Rina sepanjang malam. Pada akhirnya, dengan tekad yang perlahan tumbuh, ia memutuskan untuk mengambil kesempatan magang mandiri selama tiga bulan di kota Bandung. Meski masih ada keraguan, ia mencoba menyelipkan keyakinan bahwa pengalaman ini akan memberinya pelajaran yang berharga.
Di hari pertama magang, Rina merasa asing di lingkungan barunya. Suasana kantor yang baru dan hiruk-pikuk kota Bandung membuatnya canggung. Namun, tak lama kemudian, ia bertemu Arman, seorang mahasiswa dari universitas lain yang juga magang di tempat yang sama. Arman tampak ramah dan supel, membuat Rina merasa sedikit nyaman meski tetap canggung. Arman ternyata salah satu warga lokal di daerah industri tempat mereka magang. Hal itu sempat membuat Rina minder, takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan pergaulan setempat. Awalnya, ia memilih berbicara seperlunya dengan Arman, lebih sering diam daripada bicara.
Namun, waktu berjalan, dan keakraban mereka mulai tumbuh. Rina merasa semakin nyaman dengan Arman. Setiap hari mereka berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan tanpa sadar mereka menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Kini, Rina berangkat magang dengan semangat baru, bukan hanya karena pekerjaan, tapi karena kehadiran Arman yang selalu membuat harinya lebih cerah.
Suatu sore, saat mereka tengah berbincang santai di kantin, Arman tiba-tiba bertanya, “Rina, keluargamu gimana sih? Kok kamu nggak pernah cerita?”
Pertanyaan itu mengejutkan Rina, membuatnya merasa sedikit canggung. “Emangnya kenapa, Man? Kok sampai nanya soal keluargaku?” tanyanya, menahan rasa penasaran.
Arman tersenyum tenang, “Aku cuma mau tahu batasan kita, Rin. Biar aku nggak terlalu ikut campur atau nggak sopan. Aku peduli sama kamu, jadi aku takut kalau cerita berlebihan.” Jawab Arman.
Kata-kata Arman terasa hangat di hati Rina. Ia tak menyangka ada seseorang yang begitu memperhatikan batasan dalam pertemanan mereka. Sejak saat itu, Rina merasa Arman bukan sekadar teman magang, ia mulai menaruh kepercayaan padanya, merasa nyaman berbagi hal-hal personal yang sebelumnya hanya ia simpan sendiri.
Waktu terus berlalu, dan kini mereka semakin akrab. Rina mulai terbiasa membawa makanan ringan untuk Arman setiap hari. “Man, besok mau dibawain cemilan apa? Bisa request, lho,” tanyanya sambil tersenyum.Arman menatapnya dengan senyum jahil. “Apa aja terserah kamu, Rin. Yang penting kamu bahagia. Apapun yang kamu bawa, aku pasti makan semuanya.” Jawaban itu membuat pipi Rina merona, senyum kecil menghiasi wajahnya tanpa ia sadari.
Namun, keakraban mereka diuji saat memasuki bulan kedua magang. Seorang mahasiswa baru, Diana, bergabung di tempat magang mereka. Diana adalah tipe yang sangat aktif dan ramah, dengan kepribadian ceria yang langsung menarik perhatian Arman. Perlahan, Arman mulai sering menghabiskan waktu dengan Diana, dan interaksinya dengan Rina mulai berkurang. Rina merasa aneh, seperti ada yang hilang dalam hari-harinya. Ia merindukan percakapan ringan mereka, tawa dan lelucon yang biasanya mereka bagikan. Meski perih, ia mencoba mengendalikan perasaannya. Tak ingin memaksakan keakraban yang sudah memudar, ia memilih untuk diam dan membiarkan Arman menjalani waktu-waktunya dengan Diana.
Hari-hari terasa sunyi bagi Rina, dan masa magangnya pun hampir berakhir. Meski perasaan kecewa sempat melintasi benaknya, Rina mulai belajar menerima perubahan ini dengan hati yang lebih lapang. Ia menyadari, mungkin Arman datang di saat yang tepat untuk memberikan pelajaran dalam hidupnya—tentang bagaimana menghadapi jarak, rasa kehilangan, dan ketulusan dalam hubungan.
Di akhir masa magang, Rina kembali ke kampus dengan perasaan baru. Ia memahami, tak semua hal berjalan sesuai harapan, dan terkadang, pertemuan memang hanya singgah untuk sesaat. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang lebih mandiri dan kuat, siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan. Meski kini ia hanya bisa mengenang tawa dan percakapan mereka, Rina tahu bahwa setiap momen yang ia lalui dengan Arman akan selalu menjadi bagian dari kisah hidupnya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya tersenyum kembali.

Scroll to Top