Rintihan Sunyi di Sepertiga Malam
Karya : Ivan Tri Wibowo
Tetes-tetesan hujan turun pada malam hari, menutupi rintihan seorang yang sedang berdoa dan meluapkan segala kegelisahan nya kepada sang illahi. Dia selalu yakin kepada rabnya, setiap orang memiliki cobaan sendiri dan Allah tidak memberikan cobaan yang tidak bisa dilalui oleh manusia itu sendiri. Ya, itulah pikiran yang selalu disematkan oleh Kahfi.
Waktu terus berlalu, Kahfi masih terlarut dalam rintihan sunyinya. Tangisan tangisan yang dia tahan, ia luapkan semuanya. Dia menangis sejadi jadinya untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya. Memang seperti itu yang akan dilakukan Kahfi. Apabila ada suatu masalah atau cobaan dia menutupi masalah kepada semua orang apalagi kepada ibunya sendiri. Dia merasa sudah membebani ibunya untuk membayar uang kuliahnya. Dia tidak mau membuat ibunya merasa terbebani lagi.
Akhirnya adzan subuh pun berkumandang, Kahfi pun bangun dari tidurnya dia tidak sadar dia tertidur di atas sajadah setelah meluapkan segala isi hatinya. Ibu Kahfi teryata dari pagi juga sudah bangun menyiapkan pesanan usaha makanan cateringnya dia langsung memanggil Kahfi untuk segera pergi ke masjid. “ Kahfi, sudah bangun belum nak? Ini sudah adzan. Jangan lupa ke Masjid ya nak”. “ Baik bu, jawabanya setelah merapikan sajadah tersebut.
Setelah pulang dari masjid, Kahfi kepikiran lagi terkait masalah uang kuliah yang harus dibayarkan pada semester ini. Dia tidak mungkin meminta kepada ibu nya karna usaha catering ibukya akhir akhir ini sepi. “ Ya Allah, berikan jalan ya Allah dalam membayar uang semester ini” batin nya.
Setelah sarapan dia langsung pergi ke tempat kuliah, saat diperjalanan dia tidak sengaja melihat papan di sebuah toko kalau sedang membutuhkan seorang pekerja part time. Tanpa pikir panjang setelah selesai kuliah. Kahfi langsung mendaftar kerja tersebut. Dan merasa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan petunjuk atas doanya.
Setelah kerja disana, dia menyembunyikan pekerjaan part time kepada ibu nya. Karena tidak mau membuat ibu nya cemas dan kalo ibu nya tau di pasti tidak diizinkan sama ibunya untuk kerja part time karena Kahfi disuruh hanya untuk fokus terhadap kuliahnya saja.
Kahfi merasa sangat bersyukur kepada Allah, dia merasa doa doanya mulai diajawab oleh Allah. Karena setelah mendapatkan gaji kerja part timenya, teryata usaha catering ibu nya juga semakin ramai. Dia juga merasa bahagia bisa membayarkan uang kuliah sendiri walaupun cuma setengah karna kekurangan nya sudah dibayarkan oleh ibunya. Kahfi jadi semakin yakin perihal bahwa setiap orang memiliki cobaan sendiri dan Allah tidak memberikan cobaan yang tidak bisa dilalui oleh hambanya.

