Namaku Reno Oleh: Muhammad Umar Abdul Aziz
Pukul enam sore, tanggal enam bulan enam. Untuk terakhir kalinya aku melihat tubuh Dira, bukan dalam pelukanku, tapi tepat di depan mataku ia menggantungkan dirinya di pohon angsana: pohon yang indah, sunyi, dan menggambarkan ketenangan hati. Mungkin itu yang ia mau, Dira ingin tenang dan bebas dari segala keterbatasan di dunia ini. Di dalam sakunya terselip selembar kertas yang berisi kata-kata terakhirnya:
“Aku sangat mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu di dunia, tapi sayang dunia belum siap menerima orang sepertimu, Ren. Dunia sangat penuh dengan keterbatasan, entah siapa yang membatasi kehidupan itu. Agama? Atau apa? Aku ingin tetap bersamamu, menikah denganmu, di tempat yang tidak ada agama, tidak ada status sosial, dan tidak ada yang saling menghakimi satu sama lain. Kita boleh saling mencintai, tapi dunia tetap memilih siapa yang boleh bersama.”
Tak ada yang tahu alasan sebenarnya. Ibunya bilang Dira akhir-akhir ini terlalu banyak main HP, sedangkan ayahnya bilang, Dira mulai berubah sejak kenal dengan ‘Teman-teman yang aneh,’ yang mereka maksud adalah aku.
Mereka tak pernah menyebut namaku dengan benar. Mereka tak menyebutku Reno. Buat mereka, aku masih Reni. Nama terkahir yang mereka lihat di akte kelahiranku.
Aku dan Dira bertemu saat aku sedang melukis di pojokan danau sambil menghisap cerutu di tangan kiriku, Dira menghampiriku tiba-tiba dan seraya berkata, “haii, aku pernah melihatmu di kampus. Namamu siapa?”
“Reno. Kamu Dira, kan? suka di sini juga?” Aku balik bertanya.
“Iya. jarang sih, kebetulan aku lagi nyusun dialog buat acara teater kampus”
Dia tidak bertanya lebih jauh, tidak menatap heran seperti yang lain. Tapi, malam itu aku bantu Dira untuk menyusun naskahnya. Beberapa minggu kemudian, kami mulai rutin jalan bareng, mulai dari ke toko buku vintage di jalan arah kota itu, kadang ke kantin fakultas Teknik, kadang juga cuma nongkrong di tepi danau kampus sampai larut malam, saling diam tapi nyaman.
Suatu sore selepas kuliah, Aku dan Dira duduk di pinggir danau, dekat terminal kota. Kami bicara lama, dalam. Untuk pertama kalinya, aku jujur tentang masa kecilku. Tentang bagaimana tubuhku yang tidak mencerminkan siapa aku. Tentang transisi perlahan yang sedang aku jalani. Kukira dia akan menjauh. Tapi Dira Cuma bilang, “Kamu tetap Reno yang aku kenal”.
Sejak itu, aku merasa hidup di dua dunia. Duniaku dan Dira saling tenang, jujur, percaya, menjaga, dan saling mendukung. Tapi dunia di luar itu? Orang – orang saling mencibir, curiga, bahkan menghakimi. Mereka bilang aku sesat, menyimpang, westernized, atheis. Tapi tak satupun dari mereka bertanya, “Apa yang kau rasakan saat lahir sebagai seseorang yang tidak kau kenali?”
Aku tidak pernah ingin menjadi berbeda. Aku hanya lahir dengan jiwa yang tidak cocok dengan tubuhku. Sejak kecil, aku merasa ada yang retak dalam diriku, bukan luka fisik, tapi
semacam cacat batin. Seperti lagu indah yang dipaksa dinyanyikan dengan nada yang salah. Mereka melihatku sebagai Perempuan, tapi aku tak pernah benar-benar merasa seperti itu. Suara di kepalaku selalu laki-laki. Cara melihat dunia, cara merasakan, cara mencinta, dan semuanya. Menjadi transgender bukan tentang ingin tampil beda. Ini soal menyelamatkan diriku sendiri. Aku tidak sedang berpura-pura, justru aku sedang berhenti berpura-pura. Aku bukan kebohongan. Aku adalah versi paling jujur dari diriku yang pernah ada.
Saat ibunya memergoki kami bergandengan tangan, semuanya berubah. Aku dilarang datang ke rumahnya. Dira dilarang keluar rumah lebih dari jam lima sore. HP-nya disita. Semua akun media sosialku di blokir. Mereka memaksanya shalat lima waktu, terapi, bahkan menjalani ruqyah rutin dengan ustadz. Apakah aku seperti seorang iblis? Atau aib? Entahlah.
“Bukan kamu yang salah, Ren,” katanya pelan di suatu malam saat berhasil meminjam HP temannya di kampus tadi. “tapi dunia ga siap nerima kamu, Dan aku nggak kuat sendirian.”
Kalimat itu sekarang terus terulang di kepalaku.
Hari pemakamannya, aku hanya melihat dari jauh. Tak satu pun orang memandangku sebagai kekasih yang berduka. Buat mereka, aku bukan siapa-siapa. Bukan keluarga. Bukan sahabat. Bukan juga laki-laki.
Tapi aku adalah Reno. Orang yang Dira cintai.
Dan cinta itu nyata. Meskipun dunia bilang sebaliknya.

