“WE STARTED WITH A SIMPLE HELLO BUT ENDED WITH A COMPLICATED GOOD BYE”
By: Putri Ayu Az Zahra
“aku capek sama kamu. Aku gatau harus hadapin kamu kaya gimana lagi. Kita sampai disini aja yaa”
Bukan kalimat itu yang Rae harapkan. Bukan kalimat menohok itu yang ia harapkan keluar dari mulut kak Theo-laki laki yang satu setengah tahun belakangan ini memenuhi hari hari nya. ‘sampai di sini aja yaa’ haha. Memang nya apa yang harus di sudahi? Tak ada yang pernah mereka mulai bahkan.
“hahaha” Rae tertawa sinis “yaudah kita sampai di sini aja kalau gitu”
“yaudah?” tanya Theo tak percaya. Rae mengangguk
“lucu deh” Rae berkomentar “apa nya yang harus di akhirin? Bahkan kita ga pernah memulai apapun kak. Selama ini kak Theo anggep aku apasih? Cuma temen kan? Kak Theo mau kita berhenti temenan? Yaudah let’s end this friendshit now” rae marah. Bukan pada theo tapi pada semesta
Kejadian itu berlalu begitu saja, sejak saat itu Rae dan Theo berhenti berinteraksi. Tidak saling menghubungi, tidak saling menegur sapa dan bersikap act like nothing happened. Rae menertawai dirinya sendiri. Memang nya apa yang dapat ia harapkan dari hubungan mereka? Dari laki laki itu? Tidak ada. Ia bisa dekat dengan theo saja sudah sebuah keajaiban bagi nya. seorang Theo Xaviero Davis yang terkenal sebagai social butterfly di kampus dan mahasiswa kebanggaan dosen yang juga tampan mau dekat dengan Caraelina, Gadis biasa saja yang tidak punya banyak teman dan kadar ke pintaran nya pun standar. terasa sangat timpang dengan laki laki bermarga davis itu. Rae memang selalu berusaha untuk tidak berharap dari awal. namun ia tak tahu jika rasanya akan sesakit ini.
“aku tau kok, kalau akhir nya bakal kaya gini”
“maksud nya?”
“yaa iyaa, dari awal kak Theo ga pernah bahas soal perasaan, jadi aku selalu berusaha buat ga berharap lebih sama kaka dan hubungan kita. Kaka yang sempurna mau deket sama aku aja itu sebuah keajaiban, haha. Setiap kak Theo di tanya sama orang-orang siapa aku, pasti jawab nya cuma adek tingkat. Sama, aku juga setiap di tanya kak Theo siapa, aku jawab ‘oh dia cuma kating gw’ tapi kenapa orang-orang nge-label in aku sebagai milik kaka? Bahkan kita aja ga ada hubungan apa-apa. Lagian apa sih yang bisa di harapin dari kak Theo soal hubungan ini? Ga ada. Jadi buat apa aku berharap sama hubungan kita?”
“rae-“
“tapi, adek tingkat mana yang di kenalin ke keluarga nya? makan malem bareng keluarga nya? jadi orang pertama yang tau apa apa tentang dia? Di ajak jalan jalan sama keluarga nya. Aku tanya adek tingkat mana??”
“rae,sorry-“
“gapapa kak” Rae mngusap air mata nya “it’s not your fault, semesta aja yang terlalu jahat sama aku”
Satu setengah tahun bukan lah waktu yang sebentar. Rae mendapat perlakuan special dari theo selama itu, membuat ia harus membangun banteng pertahanan lebih tinggi lagi di setiap waktu yang berjalan. Ia tak ingin terjatuh sendirian, lagi pula berharap pada seorang Theo Xaviero bukan lah hal yang tepat. Terkadang Rae merasa ini bukan masalah besar, tapi terkadang ia bertanya ‘kita nih apa sih?’ dan hal itu kerap menganggu pikiran nya belakangan ini. Rae tak ingin mempermasalahkan status mereka, Rae cukup tau diri kok. Tapi hati nya tak dapat di ajak berkompromi membuat rae kewalahan sendiri.
Di beberapa waktu memang menyesakan dada, sebentar lagi taeyong akan di wisuda yang mana tandanya gadis itu tidak akan dapat menghadiri acara penting itu. Memang nya dia siapa? Lagi pula laki laki itu sudah mengakhiri, bukan hal yang tepat jika gadis itu memutuskan untuk tetap datang. Tidak, dia akan tetap datang namun hanya akan melihat nya dari jauh.
“nanti kalau aku udah lulus, kita ga boleh lost contact yaa. Kalau aku ke Solo nanti aku kabarin kamu biar kita bisa ketemu” begitu laki laki itu berjanji pada Rae, gadis itu hanya mengangguk
H-1 keberangkatan nya ke Jakarta, taeyeong menemui Rae untuk berpamitan. dirinya yang tau jika Theo akan pergi berusaha untuk biasa saja, mencoba untuk tidak mengharapkan apapun dari laki laki itu. Mereka sempat berbaikan walaupun gadis itu tau permintaan maaf laki laki itu tidak akan merubah apapun. Rasanya akan tetap berbeda dan tak akan lagi sama seperti dulu.
“aku mau minta maaf sama kamu” Theo tidak tau permintaan maaf nya berguna atau tidak
“aku udah bilang, it’s not your fault kak, buat apa minta maaf?”
“besok pagi aku berangkat ke Jakarta. aku cuma mau pamitan sama kamu, aku ga mau pergi dengan masalah yang belum selesai Rae”
Cuma mau pamitan, niat nya bukan untuk menyelesaikan masalah karna ingin memperbaiki hubungan. Memang hanya tidak ingin ada masalah yang belum selesai. Rae paham
“kak Theo ga perlu minta maaf, intinya bukan kaka yang salah”
“Rae-“
“hati hati besok di jalan, semoga kak Theo bisa survive di dunia kerja nanti”
Rae hanya mampu memberikan senyuman terbaik milik nya kala itu. Berharap sekali saja jika senyum nya akan selalu di ingat oleh Theo. Rae menyerah berharap pada laki laki itu karna hanya luka yang akan ia dapat. Rae berusaha melepas Theo pergi, karna ia tau dirinya bukan lah rumah bagi Theo apalagi poros dunia nya. sejak awal Theo terlalu fana untuk di genggam dan Rae sadar akan hal itu. Tapi Rae tak pernah dapat lepas dari fana nya, namun kini gadis itu harus melepas nya karna kehidupan harus tetap berjalan.
“kak Theo inget ga sama janji kaka?”
“apa?”
“buat ga lost contact dan selalu ngabarin kalau ke Solo biar kita bisa ketemu”
“aku usahain yaa”
Kala itu rae hanya bisa menundukan kepala nya dan tersenyum tipis, feeling nya mengatakan jika laki laki itu memang tidak akan pernah memenuhi janji nya, namun Rae tidak ingin memperkeruh suasana, yang ia lakukan hanya mengangguk. Hati nya teriris. Jika memang tak dapat memenuhi nya untuk apa berjanji? Scenario tuhan yang tak tertebak membuat nya harus siap siap terjatuh kapan saja.
Janji hanya lah janji, di awal Theo memang lumayan sering menghubungi Rae, sekedar bertanya kabar, bertanya lagi apa atau bertanya how your days dan bercerita singkat tentang kegiatan nya. Rae tak pernah meminta lebih, Theo ingin menghubungi nya saja Rae sudah bersyukur. Namun seiring berjalan nya waktu Theo mulai menghilang, jarang membalas pesan Rae dan yaa dirinya tau kesibukan theo di dunia kerja membuat dirinya tak dapat membalas pesan Rae meski gadis itu sering melihat status laki laki itu saat sedang bersama tema teman nya. Rae tak ada hak untuk marah maka yang ia lakukan hanya diam.
Suatu saat Theo sedang mengunjungi kampus ketika dirinya sedang berada di Solo, bertemu dengan Rae yang sedang berjalan kaki ke arah gedung fakultas nya. Rae melihat laki laki itu sedang mengobrol dengan teman teman nya namun gadis itu tak terkejut sama sekali, karna ia tau Theo sudah beberapa hari ini berada di Solo. Laki laki itu tak mengabari nya. mereka saling bertatap mata namun sedetik kemudian Rae memutuskan kontak mata mereka dan berjalan acuh memasuki kelas. Persetan dengan Theo yang terus memanggil namanya.
“ayo kita jalan”
“aku sibuk”
“ayo lah besok kan weekend, sibuk ngapain sih??”
Kala itu Rae baru saja keluar dari kelas setelah menyelesaikan mata kuliah nya. cukup terjekut melihat Theo yang tiba tiba berada di depan kelas nya, mengajak pergi dengan raut wajah yang sumringah. Rae hanya balas menatap nya dengan ekpresi datar. Seperti nya akan lebih baik jika laki laki itu bersikap seolah tak mengenal Rae di banding harus bersikap seperti ini. Namun pertahanan nya hancur ketika Theo memohon dengan mata puppy nya, hal yang biasa laki laki itu lakukan jika memohon sesuatu pada Rae. Baiklah Rae akan menuruti nya kali ini saja. Mereka berkeliling Kota Solo dengan mobil milik Theo. Namun mood nya yang berantakan tak mampu ia atasi sehingga merusak suasana. Ketika mobil berhenti di suatu tempat Rae langsung keluar dari mobil dan mencari tempat yang sekira nya dapat mengurangi bad mood nya kali ini.
“kamu kenapa sih?” Theo rasa harus nya rae senang bukan malah bad mood seperti ini
“emang nya aku kenapa?”
“kamu tuh ngerusak suasana tau ga, ini pertemuan pertama kita setelah 6 bulan, bisa ga sih ngehargain waktu yang kita punya?”
“maaf-“
“udah lah kita pulang aja kalau gitu”
“yaudah ayo kita pulang, toh aku juga ga minta buat pergi”
Mereka benar benar memutuskan untuk pulang pada saat itu juga. Rae menahan tangis sepanjang perjalanan. Rae tak pernah mengaharapkan pertemuan ini, tapi mengapa semesta masih mempertemukan mereka? Tak pernah ada niat sedikit pun dari Rae untuk merusak suasana, memang sungguh rae tak pernah berharap pertemuan ini akan terjadi. hingga Mereka sampai di depan kostan milik Rae. Laki laki itu menahan rae yang baru saja ingin turun dari mobil.
“aku tanya sekali lagi, kamu kenapa sih?”
“aku gapapa”
“Rae, kita udah 6 bulan lho ga ketemu”
“hahaa. kalau hari ini kak Theo ga ketemu aku di kampus pun kaka ga bakal ajak aku jalan kan? Aku tau kak Theo udah 1 minggu di Solo. Tapi kak Theo ga pernah ngabarin aku. Gausah sok formalitas gitu lah, kalau emang ga ada niat buat ngajak jalan, yaa gausah ngajak”
“Rae-“
“aku ga pernah permasalahin kak Theo yang ga pernah nepatin janji. Aku cuma- yaa kalau ga bisa nepatin janji tuh yaa gausah buat janji gitu lho”
“kamu marah sama aku?”
“aku ga marah sama kak Theo, aku cuma marah sama semesta kenapa harus nempatin aku di situasi kaya gini”
“Rae-“
“lagian kenapa sih masih nyari aku? Bukanya kita udah selesai?”
Air mata Rae terjatuh kala itu, dan mobil Audi R8 milik Theo menjadi saksi bisu semua isi hati gadis itu. Rae tak mau banyak berharap pada laki laki di hadapan nya ini. Theo banyak memberi harapan dan luka belakangan ini. Ia tak ingin berada di situasi seperti ini namun mengapa semesta begitu jahat pada nya? situasi nya semakin rumit, Rae ingin cepat cepat mengakhiri nya. mungkin akan lebih baik kalau mereka berakhir sampai disini.
“maaf, aku terlalu emosi. Tapi aku rasa kita perlu mengakhiri ini semua kak. Yaa walaupun aku sendiri gatau apa yang harus di akhirin karna dari awal kita ga pernah memulai apapun. Anggap aja kita ga pernah saling kenal, anggap aja kak Theo ga pernah janji, and act like nothing happened. Aku rasa hidup kita akan lebih damai kalau kita bener bener berakhir kak. Dan mungkin dengan hal ini kita bisa jadi lebih mudah buat berdamai sama masa lalu”
“ga perlu ada yang di selesain lagi. Karna kita ga pernah memulai. Mulai sekarang kak Theo bebas. Lakuin apapun yang mau kaka lakuin, gausah mikirin aku lagi. Karna sejujur nya kita emang ga pernah terikat. Makasih, seneng bisa kenal sama kak Theo. dua tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama itu juga aku bertanya-tanya ‘siapa aku di mata kak taeyong’ atau ‘sebenernya kita nih apa’ semoga setelah ini ga ada lagi yaa hal hal yang ngehantuin kita”
Rasanya sesak harus mengatakan itu, namun Rae rasa ini keputusan yang tepat, karna life must go on. Dan mereka punya jalan hidup yang berbeda, terkadang tuhan hanya mempertemukan tanpa menyatukan. Seperti Rae dan kak Theo. Mereka mencoba memaafkan satu sama lain, mencoba berdamai dengan masa lalu demi masa depan yang berjalan damai. Sejak saat itu rae dan taeyong tak pernah bertukar pesan lagi, tak pernah saling menghubungi. Rae mencoba untuk tidak pernah menanyakan tentang laki laki itu ke siapapun. Gadis itu pun mem-blokir semua social media milik Theo sebagai usaha nya dalam berdamai dengan masa lalu. Semoga healing nya berhasil
Untuk kak Theo, kaka tingkat aku yang udah nemenin dan mewarnai hidup aku selama dua tahun ini-
makasih, karna aku belajar banyak hal dari kak Theo, salah satu nya untuk jangan pernah berharap sama manusia, karna yang kita dapat cuma luka. Aku gatau perasaan apa ini. Tapi apapun rasa ini kayaknya kak Theo gabisa tanggung jawab. Jadi aku putusin buat pergi. Maaf kalau aku banyak nuntut. Walaupun aku tahu ga ada yang bisa di harapin dari kamu, kita dan hubungan kita. Kita memulai dengan kata halo yang simple tapi kita mengakhiri dengan kata selamat tinggal yang rumit.
Dari Rae si adek tingkat.
“Rae??” Theo menatap khawatir Rae yang tiba tiba mengeluarkan air mata
“eh iyaa, kenapa?” buru buru Rae mengusap air mata nya
“kamu-“
“gw gapapa kok” balas nya cepat
Seketika Rae tersadar, ternyata barusan ia kembali menyelam pada kenangan pahit beberapa tahun yang lalu. Kenangan yang tak mudah ia lupakan bahkan rasanya seperti baru kemarin ia mengalami itu semua. Fana nya kini kembali menyapa dirinya melalui tatapan hangat nan sendu yang membuat gadis itu memutar semua kenangan nya dulu
“long time no see yaa” Theo tersenyum hangat pada Rae
“yaa-“
“how are you?”
Kini Theo, laki laki bermarga davis itu duduk di hadapan Rae. Kembali setelah Tiga tahun menghilang tanpa kabar. Tiba tiba menghampiri nya ke solo dan meminta waktu untuk bertemu sekedar mengobrol. Tak banyak yang mereka biacarakan. Kenangan yang teringat begitu buruk untuk di bicarakan. Rae sendiri tak menyangka jika hari ini benar benar datang. Bagaimana bisa laki laki itu masih mengingat nya dengan baik setelah tiga tahun menghilang?
“I’m totally fine”
“syukur deh kalau kamu baik baik aja” Theo menunduk “I’m not fine even without u Rae”
“I’m not your home kak. Jangan coba coba jadiin aku pelampiasan”
Hanya kata maaf yang mampu Theo berikan pada Rae, rasanya ia melakukan kesalahan besar ketika dirinya memilih untuk pulang pada Rae saat ia tak tahu harus kemana lagi. Namun gadis itu menyadarkan nya, ia bukan lah rumah bagi seorang Theo Xaviero. Akan kah laki laki itu menetap? Jawaban nya tidak tahu. Rae tidak hanya ingin jadi rumah persinggahan sementara saja. Jika laki laki itu memang tidak bisa menjadikan diri nya rumah, jangan pernah berani datang pada Rae.
“kalau kak Theo dateng cuma buat sekedar ketemu temen lama, aku bisa terima. Tapi kalau kak Theo dateng cuma buat jadiin aku rumah singgahan, maaf aku gabisa”

